Protista Mirip Tumbuhan : Pengertian, Ciri, Klasifikasi, Contoh

Apakah kamu pernah memperhatikan kolam di sekitar rumahmu yang airnya berwarna kehijauan? Air kolam yang berwarna kehijauan itu kemungkinan besar disebabkan oleh adanya ganggang yang tidak dapat dilihat secara kasat mata.

Lalu, apa bedanya dengan ganggang yang terlihat jelas di dasar pantai? Kedua ganggang tersebut, baik ganggang mikroskopis maupun makroskopis termasuk ke dalam Protista mirip tumbuhan.  Jika ingin mengetahui lebih jelas perbedaannya, yuk kita simak uraian mengenai ini.

Pengertian Protista Mirip Tumbuhan

protista mirip tumbuhan memiliki ciri
Source: wired.com

Protista mirip tumbuhan pada zaman dulu lebih dikenal dengan istilah ganggang yang mengacu pada segala jenis tumbuhan air yang sederhana. Namun istilah ganggang tersebut kini lebih dikenal dengan sebutan alga (algae).

Ciri Protista Mirip Tumbuhan

protista mirip tumbuhan atau alga
Source: cambridgecapp.wordpress.com

Berikut merupakan ciri umum dari Protista mirip tumbuhan:

  1. Tipe sel eukariotik
  2. Bersifat autotorf
  3. Mampu melakukan fotosintesis
  4. Bersel tunggal (uniseluler) atau bersel banyak (multiseluler)
  5. Ukuran tubuh bersifat mikroskopik (25 µm) maupun makroskopik (50 m)
  6. Struktur tubuh tidak dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun sehingga disebut dengan istilah talus
  7. Mengandung pigmen klorofil maupun pigmen tambahan lainnya (karoten dan fikobilin)
  8. Struktur khas yang dimiliki Protista mirip tumbuhan adalah pirenoid sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan
  9. Hidup bebas di habitat yang berair atau lembab seperti air laut, kolam, danau, sungai, rawa, dan genangan air
  10. Reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner, fragmentasi, dan pembentukan spora sedangkan reproduksi seksual dengan cara penyatuan dua gamet yang berbeda jenis

Klasifikasi Protista Mirip Tumbuhan

Klasifikasi Protista Mirip Tumbuhan oleh ahli biologi didasarkan pada pigmen dominan, bentuk cadangan makanan, komponen penyusun dinding sel, serta jumlah dan posisi flagelum. Klasifikasi Kingdom Protista dengan kriteria tersebut menghasilkan enam kelompok yakni Euglenophyta, Chrysophyta, Pyrrophyta, Chlorophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta.

1. Euglenioid (Euglenophyta)

protista mirip tumbuhan alga yang berwarna merah yaitu
Source: thoughto.co

Euglenoid berasal dari bahasa Yunani eu yang artinya sejati dan glena yang artinya mata. Istilah tersebut diberikan karena semua anggota Euglenoid memiliki bintik mata berwarna merah (fikobilin) berbentuk piringan yang berperan sebagai fotoreseptor.

Euglenoid merupakan salah satu kelompok Protista mirip hewan yang bersel tunggal dan tidak memiliki dinding sel. Meskipun tidak memiliki dinding sel, Euglenoid dilapisi oleh suatu protein pelikel yang bersifat lentur atau tidak kaku sehingga memungkinkan perubahan bentuk sel.

Euglenoid memiliki flagelum yang berfungsi untuk bergerak. Secara umum, jumlah flagelum yang dimiliki Euglenoid ada 2, yakni flagelum yang panjang dan pendek.  Flagelum yang dimiliki oleh Euglenoid membantu dalam bergerak menuju cahaya karena peran dari fotoreseptor.

Sekitar 1.000 spesies Euglenoid yang telah diidentifikasi merupakan organisme fotosintetik. Euglenoid yang dapat melakukan fotosintesis mengandung klorofil a dan b, serta karoten. Hasil fotosintesis pada Euglenoid disimpan dalam bentuk cadangan makanan sejenis zat pati yang dikenal dengan istilah paramilon.

Euglenoid hidup bebas di perairan tawar, misalnya di danau atau kolam. Reproduksi pada Euglenoid dilakukan secara aseksual dengan cara pembelahan biner. Contoh anggota dari Euglenoid adalah Euglena sp.

2. Chrysophyta

protista mirip tumbuhan terdiri atas 7 filum yaitu
Source: youtube.com

Chrysophyta berasal dari bahasa Yunani chrysos yang artinya emas. Alga ini memiliki pigmen dominan karoten berupa santofil yang berwarna keemasan. Oleh karenanya, alga ini disebut juga sebagai alga keemasan. Pigmen lainnya yang dimiliki alga keemasan ini adalah klorofil a, klorofil c, dan fukosantin. Cadangan makanan tersimpan dalam bentuk karbohidrat dan lemak.

Chrysophyta memiliki bentuk tubuh uniseluler soliter misalnya Orchmonas atau multiseluler misalnya Vaucheria. Dinding selnya mengandung hemiselulosa, pektin, dan silika. Diatom (salah satu anggota Chrysophyta) memiliki bentuk dinding sel yang menyerupai cangkang yakni memiliki bagian dasar (hipoteka) dan bagian penutup (epiteka).

Chrysophyta sebagian besar hidup di air tawar, meskipun sebagian lainnya hidup di air laut. Pada Chysophyta uniseluler, reproduksi dilakukan secara aseksual dengan pembelahan biner. Sedangkan pada Chrysophyta multiseluler, reproduksi dilakukan dengan cara pembentukan spora.  Reproduksi aseksual oleh sebagian lainnya dilakukan dengan cara penyatuan gamet.

3. Pyrophyta

protista mirip tumbuhan ppt
Source: caseagrant.ucsd.edu

Pyrophyta merupakan alga uniseluler yang bersifat fotosintetik. Namun, beberapa spesies lainnya bersifat parasit pada sebagian tahap hidupnya. Dinding sel dari alga ini tersusun atas lempeng-lempeng selulosa dan beralur membujur serta melintang. Terdapat dua flagelum yang terletak di samping (lateral) atau di ujung (apikal) selnya.

Pyrophyta atau yang lebih dikenal dengan istilah alga api merupakan satu-satunya alga yang dapat berpendar (fluorescen) sehingga laut tampak bercahaya di malam hari. Pada musim tertentu, beberapa spesies alga api dapat melimpah jumlahnya sebanyak 6-8 juta sel dalam 1 liter air laut sehingga menyebabkan timbulnya peristiwa red tide (air laut berwarna merah kecoklatan) di pinggir pantai.

Beberapa spesies alga api yang menyebabkan peristiwa red tide juga menghasilkan toksin yang dapat membunuh hewan laut di sekitarnya. Persitiwa red tide di laut Salton California Selatan menyebabkan matinya 150 ribu burung penyelam dan 5.000 burung pelikan cokelat. Manusia yang mengkonsumsi makanan yang tercemar racun ini dapat mengalami kerusakan pada otak.

Pyrophyta hanya dapat hidup di laut dan berperan sebagai produsen utama fitoplankton laut. Reproduksi dari Pyrophyta secara aseksual dengan pembelahan biner. Contoh alga ini adalah Gymnodinium breve yang menghasilkan neurotoksin (toksin bagi saraf), dan Gonyaulax yang menghasilkan saksitoksin, Gambierdiscus toxicus yang menghasilkan ciguatoksin, serta Noctiluca scintillans yang tidak menghasilkan toksin namun berpendar.

(Baca Juga: Protista Mirip Jamur: Klasifikasi, Ciri, Contoh, dan Peranannya!)

4. Chlorophyta

protista yang mirip tumbuhan adalah
Source: ora.organic.com

Chlorophyta berasal dari bahasa Yunani yang berarti hijau dikarenakan pigmen dominan yang dimiliki oleh alga ini berupa klorofil dengan jenis klorofil a dan b yang berwarna hijau. Klorofil b tidak dimiliki oleh alga lain selain dari Chlorophyta. Selain dari klorofil a dan b, alga ini pun memiliki pigmen lain yakni karoten. Seperti halnya alga yang lain, Chlorophyta merupakan organisme autotorf yang mampu berfotosintesis.

Chlorophyta terdiri atas sel tunggal (uniseluler) maupun banyak sel (multiseluler). Spesies alga  uniseluler dapat bergerak karena memiliki flagelum. Dinding sel pada alga ini tersusun atas selulosa dengan cadangan makanan berupa amilum. Sebagian besar alga hijau hidup di air tawar, misalnya di kolam, danau, genangan air, serta di tempat-tempat lainnya yang dangkal. Contoh alga hijau yang hidup di air laut dangkal adalah Ulva lactuca.

Chlorophyta berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Perkembang biakan secara seksual dilakukan dengan isogami, anisogami, dan oogami. Sedangkan secara aseksual dilakukan dengan cara membelah diri, pembentukan spora, dan fragmentasi. Diperkirakan terdapat sekitar 7.000 spesies Chlorophyta yang tersebar di dunia. Beberapa contoh spesies dari Chlorophyta adalah  SpirogyraUlva lactuca, Volvox, Chlorella, dan lain sebagainya.

5. Phaeophyta

protista mirip tumbuhan (ganggang/alga)
Source: sigoogle2.blogspot.com

Phaeophyta atau yang lebih dikenal dengan istilah alga cokelat berasal dari bahasa Yunani phaios yang artinya cokelat. Alga ini memiliki pigmen karoten berjenis fukosantin sebagai pigmen dominan. Pigmen fukosantin tersebut memberikan warna cokelat pada alga sehingga menutupi pigmen klorofil a, klorofil c, dan santofil.

Sebagian besar Phaeophyta bersifat makroskopis dengan bentuk berupa benang atau talus. Phaeophyta yang berbentuk talus dapat mencapai panjang 50 meter. Phaeophyta yang berbentuk talus tersebut memiliki struktur serupa dengan akar, batang, dan daun. Dinding sel alga coklat mengandung pektin dan algin. Sementara itu, cadangan makanan disimpan dalam bentuk laminarin, yakni sejenis glukosa atau bahkan dapat disimpan dalam bentuk lemak.

Habitat Phaeophyta hampir semuanya adalah di laut, daerah sekitar pantai, atau daerah intertidal atau pasang surut. Phaeophyta memiliki kecenderungan untuk menempel pada karang atau batuan, maupun mengapung bebas di perairan. Reproduksi Phaeophyta secara aseksual dilakukan dengan fragmentasi (alga berbentuk talus dan benang) serta zoospora (alga berbentuk talus). Sedangkan reproduksi secara seksual melalui isogami, anisogami, dan oogami.

Diperkirakan terdapat sekitar 1.000 spesies Phaeophyta yang ada di dunia. Beberapa contoh dari Phaeophyta adalah Fucus vesiculosus yang dapat mengapung di perairan, Nereocystis dan Hormosira yang hidup menempel pada bebatuan dan karang, Sargassum yang membentuk  Laut Sagasso di antara kepulauan Azore dan Bahama dengan luas 5 juta kilometer persegi, Macrocystis dan Nereocystis merupakan alga raksasa yang mampu mencapai tinggi 50 meter sehingga membentuk hutan laut, dan yang terakhir adalah Hormosirayang dikenal dengan istilah Neptune’s necklace (kalung Neptunus).

6. Rhodophyta

protista mirip tumbuhan alga
Source: flickr.com

Rhodophyta berasal dari bahasa Yunani rhodos yang artinya merah dikarenakan pigmen dominan alga ini adalah fikobilin dengan jenis fikoeritrin yang memiliki warna merah. Selain memiliki pigmen fikoeritrin, Rhodophyta memiliki pigmen lainnya yakni klorofil a, klorofil d, fikosianin, dan karoten sehingga terdapat Rhodophyta yang berwarna ungu merah kehitaman.

Seperti halnya Phaeophyta, Rhodophyta sebagaian besar bersifat multiseluler dengan bentuk benang ataupun lembaran. Rhodophyta berukuran kurang dari satu meter dengan struktur lebih halus daripada Phaeophyta. Kandungan dinding sel pada Rhodophyta adalah selulosa dan pektin. Cadangan makanan disimpan dalam bentuk tepung florid.

Rhodophyta merupakan alga yang hidup di laut dalam. Pada wilayah laut daerah tropis, Rhodophyta mampu hidup di kedalaman 200 meter. Reproduksi Rhodophyta secara aseksual dengan spora sedangkan secara seksual melalui oogami. Rhodophyta mengalami pergiliran keturunan antara fase sporofit dan gametoft.

Diperkirakan terdapat 5.000 spesies Rhodophyta yang ada di bumi. Beberapa contoh spesies dari Rhodophyta adalah Chondrus crispus, Corallina mediterranea, Eucheuma spinosum, Gelidium robustum, Gigartina mammiosa, Gracillaria verrucosa, Palmaria palmata, serta Polysiphoniasp.

Baca Juga: Protista Mirip Hewan: Pengertian, Ciri, Klasifikasi, Contoh!

Peranan Protista Mirip Tumbuhan

protista mirip tumbuhan (alga) yang berwarna merah yaitu
Source: thoughto.co

Sebagian besar alga memiliki peran ekonomis bagi manusia. Beberapa contoh alga yang sudah berhasil dimanfaatkan adalah sebagai berikut:

  1. Chlorophyta contohnya Ulva lactuca, Enteromorpha,dan Caulerpa dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan berupa sayur. Sedangkan Chlorella dimanfaatkan sebagai sumber makanan berupa suplemen yang bergizi tinggi.
  2. Sisa cangkang diatom (Crysophyta) yang membentuk tanah diatom dapat dimanfaatkan sebagai bahan peledak, bahan isolasi, bahan penggosok, dan pembuatan saringan.
  3. Rhodophyta misalnya Eucheuma dan Gelidium dapat menghasilkan gelatin yang digunakan untuk membuat agar-agar dan campuran kue kering.
  4. Phaeophyta contohnya Laminaria lavaniea dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian dan makanan ternak di daerah pesisir karena mengandung kalium sedangkan Laminaria digitalis dapat menghasilkan yodium sebagai obat penyakit gondok. Contoh lain dari Phaeophyta adalah Macrocystis yang menghasilkan asam alginat sebagai bahan pengental es krim, pelekat pada industri plastik, tekstil, dan kosmetik.

Sumber buku:

Aryulina, D., Muslim, C.. Manaf, S., dan Winarni E. W. (2007). Biologi Kelas X. Jakarta: Erlangga

Tinggalkan komentar