8 Perbedaan Sistem Keuangan Syariah dan Konvensional

Istilah keuangan syariah dan konvensional selalu disandingkan terutama bagi seseorang yang akan menggunakan lembaga penyelenggara keuangan seperti bank. Keduanya memang sama-sama menghimpun dana dari nasabah, memberikan bantuan usaha dan melayani jasa pembayaran.

Namun, kedua hal tersebut dijalankan dengan prinsip yang berbeda. Kemunculan sistem keuangan syariah bertujuan untuk memberikan alternatif bagi yang tidak sreg dengan sistem konvensional. Agar semakin paham, berikut penjelasan lebih detail mengenai pengertian dan perbedaannya.

Pengertian Keuangan Syariah

Sejak semakin dikenal publik di tahun 1998, kemudian banyak yang membandingkan antara keuangan syariah dan konvensional sebagai model keuangan yang eksis di Indonesia.  

Dilihat dari namanya sudah jelas bahwa keuangan syariah menggunakan prinsip dalam ajaran Islam sebagai dasar pengelolaannya.

Dengan kata lain, keuangan syariah adalah sistem manajemen keuangan yang memegang erat prinsip dan dasar hukum Islam dalam menjalankan aktivitas keuangan. Intinya, pengelolaan kekayaan dilakukan sebagaimana mestinya sehingga mendatangkan kebaikan bagi banyak orang.

Sistem keuangan syariah sangat diminati oleh masyarakat Indonesia yang notabene didominasi oleh pemeluk agama Islam. Sebab, mereka pasti ingin mengelola keuangan yang sesuai dengan syariat Islam untuk menghindari hal yang hukumnya haram.

Beberapa jenis transaksi keuangan yang dilarang sehingga dijauhi oleh sistem keuangan syariah antara lain:

  • Transaksi yang melibatkan praktek riba
  • Transaksi benda yang dihukumi haram
  • Transaksi yang melibatkan unsur penyuapan
  • Transaksi yang sifatnya spekulasi
  • Transaksi yang sifatnya abu-abu alias tidak jelas
  • Transaksi yang berbau maksiat
  • Transaksi yang menyelipkan unsur penipuan

Pengertian Keuangan Konvensional

Keuangan konvensional adalah manajemen keuangan yang menggunakan sistem bunga dan mematuhi peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Sistem bunga inilah yang menjadi perbedaan dasar antara keuangan syariah dan konvensional.

Dalam penerapannya, sistem bunga diatur sebaik mungkin oleh Bank Indonesia sehingga menguntungkan masyarakat. Sistem keuangan konvensional memegang peranan penting untuk menumbuhkan perekonomian negara dan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Definisi lain dari keuangan konvensional yaitu model keuangan yang menjembatani antara pemilik dana lebih dengan pihak yang membutuhkan dana berdasarkan peraturan yang telah disahkan. 

Karena eksistensi sistem konvensional sudah lebih dulu dikenal, maka tidak heran kalau jumlah bank yang menerapkannya lebih banyak.

Perbedaan Keuangan Syariah dan Konvensional

Model syariah dan konvensional secara umum dibedakan oleh prinsip yang mendasari. Namun tidak hanya itu, berikut perbedaan lebih mendetail antara keuangan syariah dan konvensional:

Aspek yang Dibedakan Keuangan Syariah Keuangan Konvensional
Hukum   Hukum yang diterapkan memiliki dua sumber utama yaitu Al Quran dan hadist. Selain itu, fatwa ulama juga digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Fatwa ulama tersebut dikeluarkan oleh salah satu badan dalam MUI yaitu Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI).     Hukum yang digunakan bersumber dari apa yang sudah dibuat oleh pemerintah. Adapun yang dimaksud adalah hukum pidana dan perdata. Sistem konvensional sama sekali tidak melibatkan aturan dalam agama Islam maupun agama lain. Sistem ini berjalan sesuai dengan peraturan hukum di Indonesia.  
Prinsip   Prinsip yang digunakan adalah empat prinsip yang sesuai syariah. Keempat hal tersebut antara lain:   Ijarah (kontrak sewa tanpa pemindahan kepemilikan)Mudharabah (bagi hasil)Murabahah (jual beli)Ijarah wa iqtina (kontrak sewa dengan disertai pemindahan kepemilikan)     Secara garis besar, ada dua prinsip yang digunakan, yaitu:   Penetapan besaran bunga untuk layanan yang diberikan oleh lembaga keuanganPenentuan layanan berbasis biaya yang persentasenya tergantung dari lembaga keuangan yang bersangkutan
Cara Pengelolaan Uang   Dalam sistem keuangan syariah, pengelolaan dana nasabah dilakukan secara hati-hati dan sesuai syariat Islam. Investasi dari nasabah tersebut digunakan untuk proyek maupun aktivitas bisnis lain yang halal, tidak mengandung unsur maksiat, tidak menguntungkan sepihak dan memberikan manfaat bagi banyak orang.     Pengelolaan dana nasabah dalam sistem konvensional sifatnya bebas asalkan tidak melanggar hukum, aman dan menguntungkan. Dengan begitu, apapun jenis bisnisnya tidak masalah. Sistem ini cenderung selalu mengelola uang nasabah untuk apapun yang memberikan keuntungan maksimal.
Cara Pembagian Keuntungan   Model keuangan syariah menerapkan sistem bagi hasil (profit sharing) sebagai bentuk dari balas jasa kepada nasabah. Penghitungan sistem bagi hasil tersebut dilakukan dengan mengurangi total pendapatan usaha dengan biaya operasional. Hasilnya adalah keuntungan bersih untuk kedua belah pihak.       Sedangkan keuntungan dalam sistem konvensional diberikan berdasarkan persentase suku bunga. Nilainya sudah ditetapkan oleh lembaga keuangan yang bersangkutan.  
Metode dalam Bertransaksi   Terdapat beberapa metode transaksi yang diterapkan dalam keuangan syariah, meliputi:   Akad Musyarakah (kerjasama antara dua pihak)Akad Mudharabah (bagi hasil) Akad Musaqah (kerjasama antara pemilik lahan dan petani) Akad Ijarah (sewa menyewa) Akad Wakalah (penyerahan mandat)Akad Ba’i (jual beli)      Dalam sistem konvensional, seluruh peraturan dan kebijakan dalam bertransaksi sudah diatur oleh pemerintah. Penerapannya pun diawasi secara berkelanjutan. Peraturan tersebut dibuat berdasarkan hukum yang berlaku.
Hubungan Lembaga Keuangan dan Nasabah   Lembaga yang menerapkan sistem keuangan syariah memandang nasabah sebagai mitra seutuhnya. Sistem syariah mengajak nasabah untuk melakukan akad sehingga sifatnya sangat transparan.     Lembaga yang menggunakan sistem konvensional memandang nasabah sebagai debitur. Sedangkan pihak lembaga sebagai kreditur.
Posisi Dewan Pengawas   Sistem keuangan syariah memberlakukan pengawasan penuh atas aktivitas bisnis yang dilakukan. Pihak yang disebut Dewan Pengawas terdiri dari para ulama dan ahli ekonomi yang mumpuni di bidang fikih muamalah. Selain itu, pihak OJK dan Bank Indonesia juga terlibat.     Posisi Dewan Pengawas tidak diberlakukan dalam sistem keuangan konvensional. Semua kegiatan hanya diawasi oleh pihak OJK dan hukum-hukum positif yang sudah ditentukan.
Cara Penyelesaian Sengketa   Langkah awal untuk menyelesaikan sengketa adalah dengan melakukan musyawarah. Apabila proses gagal, maka akan diselesaikan melalui Pengadilan Agama.     Penyelesaian sengketa dilakukan pertama kali secara internal oleh lembaga yang bersangkutan. Apabila tidak tercapai kesepakatan maka berganti ke lembaga alternatif. Terakhir, penyelesaian sengketa bisa dilakukan melalui Pengadilan Negeri.  

Keuangan Syariah dan Keuangan Konvensional, Manakah yang Lebih Baik?

Adanya model keuangan syariah dan konvensional yang berbeda menyebabkan masyarakat terkadang bingung untuk memilih yang mana. Sebenarnya, sistem keuangan konvensional lebih familiar bagi masyarakat Indonesia karena sudah lebih dulu berkembang.

Namun, sistem keuangan syariah mampu menyusul dengan cepat karena faktor jumlah umat Islam di Indonesia yang sangat banyak. Apabila kamu termasuk yang masih bingung, berikut 3 tips sederhana yang akan membantumu dalam memilih:

1. Pahami Perbedaannya Secara Mendalam

Pahami Perbedaannya Secara Mendalam

Sudah melihat tabel perbedaan sebelumnya, kan? Perhatikan dengan baik perbedaan antara kedua sistem keuangan tersebut. Dengan memahaminya secara mendalam, maka kamu bisa mengambil kesimpulan sistem mana yang lebih cocok untukmu.

Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan gambaran mengenai konsekuensi dan risiko dari keuangan syariah dan konvensional. Dengan begitu, persiapan lebih awal bisa dilakukan.

2. Sesuaikan dengan Kebutuhan 

Sesuaikan dengan Kebutuhan

Selanjutnya, pilihlah sistem keuangan mana yang sekiranya bisa memenuhi kebutuhanmu. Awali dengan mencari tahu apa saja layanan yang disediakan oleh lembaga keuangan sistem syariah dan konvensional.

Pelajari dengan baik dan pilih yang mampu mendukung tujuanmu. Apabila kamu ingin memilih sistem syariah, maka pastikan kegiatan bisnis yang kamu miliki tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Misalnya kamu membutuhkan modal untuk bisnis yang ternyata haram dalam Islam, maka pilihlah sistem konvensional. Sebab, sistem tersebut menerima segala jenis bisnis asalkan tidak melanggar hukum di Indonesia dan memiliki nilai yang positif.

3. Pertimbangkan Nilai Keuntungan

Pertimbangkan Nilai Keuntungan

Keuangan syariah dan konvensional menetapkan sistem pembagian keuntungan yang berbeda. Bentuk suku bunga dipakai oleh model konvensional sedangkan bagi hasil dipakai oleh model syariah.

Beberapa orang lebih merekomendasikan lembaga keuangan yang menerapkan sistem syariah karena pembagian keuntungannya lebih besar. Bisa dibilang memang benar, tapi sifatnya tidak mutlak.

Sebab, besarnya nilai bagi hasil juga tergantung pada bagus atau tidaknya kinerja lembaga tersebut. Ketika kinerjanya tidak maksimal, nilai keuntungan bisa lebih kecil dibanding nilai bunga dari sistem konvensional.

Namun, tidak menjamin juga kalau keuntungan dari sistem keuangan konvensional selalu lebih besar. Maka dari itu, kamu perlu memahami permainan bunga dan bagi hasil sehingga bisa memperkirakan segala kemungkinannya.

Menarik memang membahas dua model keuangan yang ada di Indonesia tersebut. Pada intinya, perbedaan mendasar antara keuangan syariah dan konvensional terletak pada hukum yang dipakai serta cara keuntungan dibagikan.

Hukum untuk keuangan syariah berdasar pada Al Quran, hadist dan fatwa para ulama. Sedangkan keuangan konvensional berdasar pada hukum positif yang berlaku di Indonesia. Perbedaan dalam hal pembagian keuntungan menjadi hal lain yang paling disorot.

Keuangan konvensional menerapkan sistem suku bunga. Sedangkan keuangan syariah hadir untuk menghindari sistem tersebut dengan menawarkan bagi hasil. Sebab, riba diharamkan dalam agama Islam.

Apabila kamu lebih mengejar faktor halal, maka model keuangan syariah adalah pilihan terbaik. Sebab, model keuangan konvensional tidak peduli halal-haram karena lebih mementingkan keuntungan. Kalau halal bukanlah faktor utama, maka 3 tips tadi bisa dipertimbangkan.

Tinggalkan komentar